Jumat, 05 Maret 2010

tulisan (penulisan ilmiah fenny )

DAFTAR ISI

Daftar isi i
Usulan Penelitian ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Pertanyaan Penelitian 5
C. Tujuan Penelitian 5
D. Manfaat Penulisan 5
BAB II Tinjauan Pustaka
A. Penyesuaiaan Diri 7
1. Pengertian Penyesuaian Diri 7
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri 8
3. Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri 9
4. Komponen-komponen Penyesuaian Diri 10
5. Dimensi-dimensi Penyesuaian Diri 10
B. Anak 12
1. Pengertian Anak 12
2. Tugas Perkembangan Anak 13
3. Percepatan Pertumbuhan Anak 13
C. Ibu Perokok 14
1. Pengertian Perilaku Merokok 14
2. Pengertian Ibu Perokok 14
3. Tahap-tahap Menjadi Seorang Perokok 15
4. Kategorisasi Perokok 16
5. Alasan Peningkatan Perilaku Merokok 17
D. Dinamika Penyesuaian Diri Anak Yang Mempunyai Ibu Perokok 18
BAB III Metode Penelitian
A. Pendekatan Penelitian 21
B. Subjek Penelitian 22
C. Tahap-tahap Penelitian 23
D. Tekhnik Pengumpulan Data 23
E. Instrument Penelitian 26
F. Keakuratan Penelitian 27
G. Analisa Data 28
DAFTAR PUSTAKA 31
LAMPIRAN




BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Pada zaman sekarang ini, banyak kita jumpai dan kita lihat ibu-ibu merokok di tempat umum, seperti di restoran atau cafe dan banyak juga di tempat lainnya. Bahkan banyak juga kita jumpai di saat ibu-ibu arisan berkumpul di restoran, mayoritas sebagian besar ibu-ibunya merokok, walaupun ada juga sebagian yang tidak merokok. Sekarang ini yang paling memprihatinkan banyak juga ibu-ibu yang merokok, pada saat ada anak-anaknya dan bahkan ditempat umum sekalipun. Mayoritas sebagian besar ibu-ibu yang merokok karena mengikuti pergaulan yang ada disekitar lingkungannya, biasanya karena terpengaruh teman-teman di lingkungan yang merokok, ibu merokok pada saat mereka berkumpul bersama, lalu menawarkan atau bahkan karena ikut-ikutan dan gengsi yang tinggi. Ada juga sebagian ibu-ibu yang merokok karena terbawa masa mudanya yang merokok dan sebagian besar ibu-ibu yang merokok, mengatakan bahwa rokok sudah menjadi kebutuhan sehari-hari mereka.
Kita melihat ibu-ibu perokok yang merokok pada saat mereka menunggu anaknya yang sedang bersekolah, tempat menunggu itu bisa juga disebut sebagai tempat tongkrongannya. Sebagian ibu-ibu ada yang terpengaruh dengan ikut-ikutan merokok ada juga yang tidak tetapi sebagian besar ibu-ibu yang merokok karena masa muda ibu-ibu tersebut merokok, jadi terbawa sampai mereka berumah tangga dan mempunyai anak.
Perilaku merokok sudah menjadi kebiasaan ibu perokok tersebut sebelum mereka menikah dan mempunyai anak, dengan seringnya ibu merokok maka merokok sudah menjadi kebutuhan sehari-hari ibu tersebut. Merokok sudah menjadi kebutuhan atau kebiasaan bagi ibu yang merokok, dan tanpa mereka tutup-tutupi terhadap suami bahkan anak mereka sekalipun, tetapi ada juga sebagian ibu perokok yang menutupi bahwa dirinya merokok di depan suami dan anaknya (Sweeting, 1990).
Pada zaman sekarang ini, sudah menjadi hal yang biasa melihat ibu-ibu merokok walaupun ada sebagian orang yang menganggap tidak biasa, apalagi ibu-ibu yang menikah di usia muda, rata-rata sebagian pernah merasakan yang namanya merokok, ada yang menjadi kebutuhan, ada juga yang hanya sekedar coba-coba, tetapi tidak semua ibu-ibu atau perempuan yang menikah muda merokok (Safarino, 1998).
Dikota-kota besar seperti di JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) sudah banyak juga kita lihat ibu-ibu yang merokok di tempat-tempat umum dan di depan anaknya sekalipun, tanpa mereka merasa malu dengan anaknya. Sebagian besar orang yang memandang perempuan yang merokok itu adalah perempuan tidak baik, tetapi tidak semua perempuan yang merokok itu tidak baik, tetapi ada sebagian orang yang memandang perempuan merokok itu sudah biasa, walaupun merokok itu mereka tau tidak baik buat kesehatan, baik buat si perokok maupun dilingkungan sekitar perokok tersebut. Apalagi di depan anaknya karena sangat berpengaruh dalam perkembangan anak dan ada dampak psikologis terhadap anak tersebut. Anak tersebut harus bisa melakukan penyesuaian diri supaya anak yang mempunyai ibu perokok dapat menerima dengan apa adanya mempunyai ibu yang perokok, apalagi ketika si anak melihat untuk pertama kali ibunya merokok, lalu apa yang dirasakan anak tersebut ketika melihat ibunya merokok. Proses penyesuaian diri berlangsung secara bertahap, tidak secara langsung dan dapat diterapkan dalam lingkungan yang baru, karena diutuhkan pembiasaan diri atau biasa disebut penyesuaian diri terhadap perubahan yang terjadi (Fahmi,1977).
Penyesuaian diri sangat dipengaruhi oleh adanya dukungan diri sendiri untuk melakukan penyesuaian diri. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri, dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup (Gerungan, 2002).
Penyesuaian diri itu suatu proses mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan. Manusia di tuntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan, dan lingkungan alam sekitarnya. Menurut Schneiders (dalam Ali dan Asrori, 2005) penyesuaian diri dapat dilihat dari 3 sudut pandang, yaitu penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bantuan konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (masterg).
Masa penyesuaian diri dan sosisalisasi yang sesungguhnya akan terjadi pada saat anak memasuki lingkungannya melakukan sesuatu (somantri,1996). Bentuk penyesuaian diri berbeda-beda dalam sifat dan caranya, ada sebagian orang yang dapat menyesuaikan dirinya, ada juga yang tidak dapat menyesuaikan dirinnya. Setiap individu dalam menjalani kehidupannya yang bertahap-tahap selalu melakukan penyesuaian sehingga terjadi kesesuaian antara tuntutan dari dalam diri maupun tuntunan dari lingkungan. Seseorang akan melakukan upaya penyesuaian diri karena peran mereka juga yang berubah. Seseorang yang memiliki ibu perokok akan melakukan penyesuaian dirinya dengan lingkungannya seiring berjalannya waktu, seperti adanya tuntutan eksternal dan internal yang melebihi batas kemampuannya akan menimbulkan stres pada orang tua agar terdapat keseimbangan di dalam diri mereka. Penyesuaian diri anak akan berlangsung terus menerus walaupun masalah yang dialami pada setiap tahap itu berbeda-beda (Lazarus, 1969).
Cara anak untuk dapat menyesuaikan dirinya yang mempunyai ibu perokok adalah salah satunya dengan cara anak menanyakan mengapa ibunya merokok dan setelah mengetahui mengapa ibunya merokok lalu anak menyesuaikan dirinya untuk dapat menerima ibunya merokok dan dapat mengerti mengapa ibunya merokok. penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk merubah perilaku individu agar menjadi hubungan yang sesuai antara diri individu dengan lingkungannya juga penyesuaian diri dapat berarti, mengubah diri sendiri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungannya sesuai dengan keadaan (keinginan) diri (Gerungan. 2002).
Penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok, untuk pertama kalinya mereka melihat atau mengetahui ibunya merokok mempunyai perasaan kaget. Apalagi untuk pertamakalinya mereka tahu ibunya merokok di tempat umum, ada perasaan malu dan perasaan tidak nyaman, lalu si anak tersebut mengekspresikan dirinya dengan tingkah laku anak tersebut tidak nyaman, dengan berbagai cara apapun. Karena anak tersebut merasa kaget ketika melihat ibunya pertamakali merokok, ada juga si anak tersebut langsung bertanya kepada ibunya, kenapa ibunya merokok, rata-rata sebagian besar anak ketika pertama kalinya melihat ibunya merokok, akan merasa tidak nyaman, karena mereka tidak pernah melihat ibunya merokok sebelumnya (Leventhal, 1986).
Menurut Hollander (1981), mengatakan bahwa penyesuaian diri anak adalah kemampuan seseorang anak untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya, sehingga anak merasa puas tergadap dirinya dan terhadap lingkunannya. Jadi bisa di katakan penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok adalah proses anak mempelajari tindakan seorang ibu atau sikap yang baru untuk menghadapi situasi dimana seorang ibu melakukan aktifitas merokok.
Ibu yang merokok di depan anak-anaknya dapat mempengaruhi perkembangan anak, seperti salah satunya dapat mencontohkan perilaku yang tidak baik seperti mengikuti merokok juga atau bisa menjadi contoh tidak baik buat anaknya. Cara anak agar dapat menyesuaikan dirinya mempunyai ibu perokok, salah satunya dengan cara menanyakan mengapa ibunya merokok, lalu ibu yang merokok tersebut dapat menjelaskan mengapa dirinya merokok. Lalu dengan di jelaskan kepada anak tersebut, dengan berjalannya waktu dan anak tersebut sehari-hari melihat ibunya merokok, lambat laun anak akan dapat menyesuaikan dirinya mempunyai ibu perokok, dan anak pulalah yang harus menyesuaikan diri untuk dapat menerima atau tidaknya ibunya merokok (Gerungan,2002).
Ada permasalahan yaitu ada gap antara harapan dan kenyataan, anak yang mempunyai ibu perokok harapannya adalah agar anak dapat menyesuaikan dirinya untuk menerima pertama kalinnya melihat ibunya merokok tetapi kenyataanya anak tidak mudah untuk dapat menyesuaikan dirinya untuk pertama kalinya melihat ibunya merokok.


B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses apa yang di lakukan oleh anak agar bisa menyesuaikan dirinya saat melihat ibunya merokok, kemudian untuk mengetahui gambaran penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu merokok, kemudian untuk mengetahui cara-cara penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok, lalu agar dapat mengetahui bagaimana penyesuain diri pada anak yang mempunyai ibu perokok dan dapat mengetahui faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi penyesuaian diri tersebut.
Alasan memilih judul penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok adalah, karena judul tersebut sangat menarik buat kami uangkap karena salah satu dikeluarga kami ada yang mempunyai ibu perokok. agar kami juga mengetahui, bagaimana perasaan-perasaan anak yang lainnya juga dan bagaimana cara anak-anak yang lain belajar menyesuaikan dirinya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyesuaian Diri

1. Pengertian Penyesuaian Diri
Lazarus (1961), mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses psikologi dimana seseorang mengatasi tuntutan dan tekanan. Sedangkan menurut Atwater (1983) penyesuaian diri adalah menyangkut perubahan pada diri sendiri atau keadan sekitar, untuk memperoleh hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan sekitar.
Menurut Mutadin (2002), penyesuaian diri adalah salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa atau mental individu dan merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang sesuai antara diri individu dan lingkungan.
Sedangkan menurut Kartono (1996), penyesuaian diri adalah mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang sesuai antara diri individu dan lingkungan dengan cara seseorang menghadapi dan memecahkan situasi yang mengandung masalah, sampai tercapai hasil yang diharapkan.
Menurut Atwater (1983), penyesuaian diri merupakan adaptation bukanlah adjustment, melainkan aktifitas adjusting (penyesuaian diri) yang berkelanjutan. Sedangkan menurut Grasha dan Kirschenbaum (1980), mengatakan bahwa penyesuaian diri meliputi sejumlah respon yang kita lakukan agar adaptasi yang berlangsung terus-menerus akan menjadi suatu adaptasi dan penyesuaian diri (adjusment) merupakan salah satu cara berespon dalam adaptasi.
Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Sedangkan menurut Sunarto (2002), penyesuaian diri berarti adaptasi yang dideskripsikan dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive (bertahan dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntunan sosial.
Menurut Yuliati (2002), penyesuaian diri adalah suatu kemampuan untuk bekerja secara efektif dan berhubungan dengan orang lain, mempunyai toleransi terhadap frustasi, pemenuhan kebutuhan jasmani, merasa diterima oleh kelompoknya, percaya diri serta mempunyai alasan dalam setiap perbuatan dan perasaanya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah cara seseorang menghadapi dan memecahkan situasi yang mengandung masalah, sampai tercapai hasil yang diharapkan dan mengatasi tuntutan dan tekanan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang sesuai antara diri individu dan lingkungan.

2. Faktor faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
Menurut Powell (dalam Iskandar, 2007), faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu:
a. Kemampuan untuk mempertemukan hubungan yang baik dengan keluarga dan orang lain. Menurut Lowenthael (dalam Gunarsa, 1986), hubungan yang saling memuaskan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi masalah.
b. Keadan Fisik.
Keadaan fisik meliputi kesehatan, daya kesembuhan.
c. Kecerdasan.
Seseorang tidak butuh bantuan orang dalam memecahkan masalah, karena sudah ada kecerdasan.
d. Minat.
Minat diluar pekerjaan, suatu aktifitas kegemaran atau hobi yang benar-benar diminati.
e. Keyakinan yang Bersifat Religius
Sesuatu yang individu yakini lebih berkuasa pada dirinya.
f. Kemampuan Keuangan
Tersedia hal tersebut dapat membantu individu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan memberikan kenyamanan dalam hidup sehingga dapat membantu mempermudah penyesuaian dirinya yang dilakukan individu.
g. Impian
Bertujuan untuk ketahanan frustasi.

3. Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri
Berdasarkan baik dan buruknya penyesuaian diri dapat di kemukakan dua bentuk penyesuaian diri, yaitu: (Anurung, 2003)
a. Penyesuaian Diri Aloplastis
Merupakan penyesuaian diri yang pasif, dimana seseorang secara pasif menerima tuntutan dan tantangan yang datang dari lingkungan sosial ataupun lingkungan keluarganya yang diandalkan berusaha melakukan sesuatu untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya seperti dalam keadaan saat-saat dimana seseorang mempengaruhi oleh lingkungannya.
b. Penyesuaian diri Autoplastis
Merupakan penyesuaian diri yang aktif dimana individu dapat menerima kekurangannya yang mungkin tidak dapat dirubah, tetapi harus berusaha memodifikasikan kekurangannya secara optimal seperti situasi dimana seseorang mempengaruni lingkungannya.
c. Penyesuaian diri buruk (poor adjusment)
Dimana seseorang menerima kenyataan secara pasif dan tidak melakukan usaha ataupun untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
d. Penyesuaian diri baik (good adjusment)
Dimana seseorang dapat menerima keterbatasan yang tidak dapat diubah, namun ia tetap berusaha memodifikasi itu seoptimal mungkin.


4. Komponen-komponen Penyesuaian Diri
Komponen-komponen penyesuaian diri terdiri dari : (Atwater, 1983)
a. Ourselves
Ourselves atau self merupakan suatu komponen pokok dan terpenting dalam penyesuaian diri. Pada dasarnya penyesuaian diri dapat terbentuk sangat tergantung pada diri kita sendiri dan kemauan yang ada dalam diri kita sendiri.
b. Other
Maksudnya other disini adalah orang lain, orang lain sangat berpengaruh dalam proses penyesuaian diri kita. Tanpa bantuan orang lain kita akan mengalami kesulitan dalam mencapai kepuasan hubungan dengan orang lain.
c. Change
Change atau perubahan mengacu pada konsep penyesuaian diri, secara sederhana, penyesuaian diri tetap mengacu pada perubahan yang terjadi pada diri kita.

5. Dimensi-dimensi Penyesuaian Diri
Menurut Eysenck & Willson (dalam Chairani, 2006), untuk melihat baik atau buruknya penyesuaian diri seseorang yang berhubungan dengan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Untuk menilai dimensi penyesuaian diri yaitu, self esteem, kebahagiaan, kecemasan, obsesi, otonomi, dan rasa bersalah :
a. Self esteem
Orang yang mampu menyesuaikan diri yang baik adalah pribadi yang menilai dirinya sebagai seseorang yang merasa berharga bagi orang lain dan bermanfaat dan juga merasa disukai dan diterima kehadirannya oleh orang lain, sebaliknya orang yang kurang menyesuaikan diri selalu gagal.


b. Kebahagian
Pribadi yang dapat menyesuaikan diri dengan baik merasa bahagia dalam menjalani hidupnya, merasa puas dengan eksistensinya. Pribadi yang kurang sering kali mengalami depresi, pesimis, tidak puas dengan kondisinya.
c. Kecemasan
Individu yang dapat menyesuaikan diri merasakan tidak terlalu mencemaskan hak sepele secara berlebihan, terbebas dari rasa cemas terhadap hal-hal yang tidak rasional sedangkan yang tidak akan merasakan kecemasan karena hal sepele dan belum pasti.
d. Obsesi
Individu yang menyesuaikan diri dengan baik akan terlepas dari rasa ingin selalu dengan aturan-aturan yang sudah pasti dan rutin, dapat menikmati hidup dengan santai dan individu yang kurang mampu menyesuaikan diri akan selalu berusaha untuk hidup sesuai dengan aturan yang sudah pasti dan cenderung bersifat kalau serta disiplin yang berlebihan.
e. Otonomi
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan merasa bebas dan mandiri, dapat membuat keputusan sendiri tanpa ada pengaruh berlebihan dan tekanan dari orang lain. Sedangkan orang yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung menganggap dirinya sebagai pribadi yang hanya ditentukan oleh nasib semata tidak ada usaha dan dikuasai orang lain.
f. Rasa Bersalah
Pribadi yang dapat menyesuaikan diri dengan baik tidak akan di hantui yang dilakukan oleh filling guilty dan tidak terlalu menyesali kesalahan yang dilakukan dimasa lalu secara berlebih, sedangkan pribadi yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan cenderung sering menyalahkan diri sendiri dan targanggu perilaku-perilaku dimasa lalu.

B. Anak

1. Pengertian Anak
Menurut Locke (dalam Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Augustinus (dalam Suryabrata, 1987), mengatakan bahwa anak tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan.
Sedangkan menurut Sobur (1988), anak adalah mahluk sosial seperti orang dewasa juga, anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Anak juga sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan.
Menurut Haditono (dalam Damayanti, 1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Menurut Kasiram (1994), mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Dalam proses perkembangan manusia, kita lihat di perkembangan anak, dijumpai beberapa tahapan atau fase dalam perkembangan, antara fase yang satu dengan fase yang lain selalu berhubungan dan mempengaruhi serta memiliki ciri-ciri yang relatif sama pada setiap anak.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa anak adalah mahluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya.

2. Tugas Perkembangan Anak
Menurut Havighurst (dalam Gunarsa, 2003), tugas perkembangan pada anak 12 sampai 15 tahun, sebagai berikut :
a. Belajar kemampuan-kemampuan fisik yang di perlukan agar bisa melaksanakan permainan atau olahraga yang biasa.
b. Membentuk sikap-sikap tertentu terhadap dirinya sebagai pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang.
c. Belajar bergaul dengan teman-teman seumurannya.
d. Memperoleh kebebasan diri.
e. Membentuk sikap-sikap terhadap kelompok sosial dan intitusi.

3. Percepatan Pertumbuhan Anak
Menurut Gunarsa (1991), percepatan perumbuhan anak adalah waktu dan proses pertumbuhan fisik tidak sama bagi semua anak. Banyak faktor individual yang mempengaruhi jalannya pertumbuhan ini, sehingga baik awal maupun akhir, proses terjadinya secara berbeda-beda pada titik awal pertumbuhan anak biasanya tidak terdapat banyak perbedaan, tetapi kecepatan pertumbuhan setiap individu menjadi sangat berbeda sesuai dengan iramanya masing-masing, yaitu :
a. Bagi anak laki-laki : permulaan percepatan pertumbuhan berbeda-beda dan berkisar antara 10,5-16 tahun.
b. Bagi anak perempuan : percepatan pertumbuhan dimulai antara umur 7,5-11,5 tahun dengan umur rata-rata 10,5 tahun puncak pertumbuhan ukuran fisik dicapai pada umur 12 tahun, yakni kurang lebih bertumbuh 6-11 cm setahun.


C. Ibu Perokok

1. Pengertian Perilaku Merokok
Menurut Sitepoe (2000), merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya. Baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Asap yang dihisap melalui mulut disebut mainstrem smoke, sedangkan asap rokok yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar disebut mainstreem smoke. Orang yang menghirup sidestream smoke disebut perokok pasif. Asap rokok yang dihisap mengandung 4.000 jenis bahan kimia dengan berbagai jenis daya kerja terhadap tubuh.
Sedangkan menurut Pribadi (dalam Verawati & Astuti, 2003) merokok pada dasarnya memasukan bahan yang berasal dari dedaunan (tembakau) yang mengandung zat tertentu (khususnya) nikotin sebagai tindakan untuk memperoleh kenikmatan.
Perilaku merokok adalah aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang di ukur melalui intensitas merokok, tempat merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari (Komasari & Helmi, 2000).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok adalah suatu kegiatan memasukan tembakau kedalam pipa atau membakar rokok kemudian menghisap asapnya untuk mendapat kenikmatan, yang diukur melalui intensitas merokok, tempat merokok, waktu merokok, dan fungsi kehidupan merokok dalam kehidupan sehari-hari




2. Pengertian Ibu Perokok
Ibu perokok adalah suatu kebiasaan ibu menghisap tembakau yang digulung dengan kertas, daun jagung yang tidak lain disebut dengan ibu perokok (Effendi, 1975).
Sedangkan menurut (Becker dalam Prabandari, 1994) perilaku ibu perokok adalah perilaku yang kompleks, karena merupakan hasil interaksi kognitif, lingkungan sosial conditioning, dan fisiologis. Kognitif dalam arti ibu perokok tidak akan memperlihatkan keyakinan yang tinggi terhadap bahaya merokok. Sosial dalam arti ibu perokok, ibu perokok karena adanya orang lain atau demi pergaulan, psikologis karena banyak ibu perokok melakukan perilaku merokok karena ingin mengurangi ketegangan. Sedangkan conditioning karena adanya akibat yang menyenangkan setelah merokok, sehingga ibu perokok selalu ingin mengulang perilaku merokoknya dan fisiologis karena adanya bukti bahwa merokok dapat menyebabkan tubuh tergantung pada nikotin (Blasgow dalam Prabandari, 1994).
Menurut Helmi (1995), Ibu perokok yaitu merupakan kegiatan menghisap tembakau yang di gulung dengan kertas khusus atau daun jagung dan menghirupnya melalui mulut, tanpa ada tujuan ke arah kesehatan dan dapat menjadi suatu kebiasaan dan bergeser menjadi aktifitas yang bersifat obsesif.
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa ibu perokok adalah perilaku yang kompleks, karena merupakan hasil interaksi kognitif, lingkungan sosial conditioning, dan fisiologis dan merupakan kegiatan menghisap tembakau yang di gulung dengan kertas khusus atau daun jagung dan menghirupnya melalui mulut.

3. Tahap-tahap Menjadi Seorang Perokok
Tahap-tahap menjadi seorang perokok antara lain : (Sweeting, 1990)
a. Persiapan (prepartion)
Terhadap persiapan muncul sebelum seseorang pernah merasakan merokok. Tahap ini melibatkan pengembangan sikap dan intensi terhadap perilaku merokok dan citra yang muncul dari rokok. Faktor yang patut diperhatikan adalah observasi pribadi terhadap model orang dewasa yang merokok (khususnya orang tua atau kenalan) dan yang ada di masyarakat.
b. Inisiasi (initiaton)
Inisiasi adalah saat pertama kalinya seseorang mencoba merokok tahap ini merupakan langkah yang kritis karena seringkali muncul akibat desakan kelompok teman sebaya dan kurangnya kemampuan menolak untuk merokok.
c. Menjadi Seorang Perokok (becoming smoker)
Berbagai penelitian menunjukan bahwa diperlakukan sekitar 2 tahun bagi seseorang untuk berlatih dari eksperimentasi awal ke tahap merokok serta reguler. Leventhal & Cleary melihat terhadap ini harus melibatkan proses pembentukan konsep mempelajari kapan & bagaimana untuk merokok ke dalam konsep diri orang tersebut. Ditahap inilah mulai terbentuk toleransi pada efek fisiologis (Russel, 1979). Tahap ini amat tergantung pada kelompok teman sebaya dan citra diri yang diasosiasikan dan merokok.
d. Mempertahankan Merokok (maintenace)
Tahap ini merupakan tahap akhir dimana faktor psikologis dan mekanisme biologis (tingkat kecanduan nikotin yang sudah setabil) bersama pembentukan pola perilaku yang di pelajari. Proses ini kurang lebih memakai waktu merokok selama 2 tahun. Faktor yang bersifat perseorangan dalam mendukung dan mempertahankan kebiasaan tersebut (Leventhal, 1986).

4. Kategorisasi Perokok
Menurut Sweeting (1990), orang yang disebut perokok setidaknya 100 batang atau lebih selama hidupnya, seperti kategori yang ditunjukan Gllchrist, Schinke, Bobo dan Snow (1986). Mereka mengajukan 3 kategori :
a. Nonsmoker adalah orang yang bukan perokok, yaitu orang belum pernah merokok samasekali.
b. Experimental smoker adalah orang yang telah merokok beberapa kali namun merokok tidak menjadi kebiasaan mereka.
c. Regular smoker atau perokok tetap adalah orang yang teratur merokok, baik mingguan atau dengan intensitas yang lebih tinggi lagi.
Sedangkan Boneguro & Boneguro (dalam Sweeting, 1990), membedakan perokok dalam 5 kategori, yaitu :
a. Tidak pernah sama sekali
b. Pernah mencoba
c. Mantan perokok
d. Orang yang hanya sesekali merokok
e. Orang yang selalu merokok setiap hari (Daily users).
Kategori lain dilanjutkan oleh Chassin, Presson, Rose & Shermen (dalam Safarino, 1998) yang mengkategorikan status merokok menjadi :
a. Abstainer (sama sekali tidak pernah mencoba merokok).
b. Triers (merokok 1 sampai 2 sekali hanya untuk mencoba namun tidak dalam bulan terakhir).
c. Mantan perokok.
d. Merokok mingguan.
e. Perokok harian.
Subjek dikategorikan perokok reguler bila mereka merokok minimal seminggu sekali.
Jadi dari keterangan di atas dan dari beberapa tokoh dapat disimpulkan bahwa, ada beberapa kategori perokok mulai dari :
a. Tidak pernah sama sekali (Abstainer atau Nonsmoker)
b. Pernah mencoba (Triers)
c. Mantan perokok
d. Orang yang hanya sesekali merokok (Experimental Smoker)
e. Orang yang selalu merokok setiap hari (Daily users atau Regular Smoker)
f. Merokok Mingguan

5. Alasan Peningkatan Perilaku Merokok
Menurut Murray, Swan, Johnson & Beweley (dalam Safarino, 1998), melakukan penelitian longitudinal selama 2 tahun untuk mengetahui faktor-faktor psikososial dalam perkembangan tingkah laku merokok dengan responden sebanyak 2 orang. Hasil ini menyimpulkan bahwa peningkatan tingkah laku merokok cenderung terjadi jika subjek :
a. Merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli atau justru mendorong perilaku merokok yang mereka lakukan.
b. Memiliki saudara atau teman yang merokok.
c. Sering bersosialisasi dengan teman.
d. Mempunyai sikap positif terhadap tingkah laku merokok, antara lain seperti merokok itu menyenangkan atau merokok membantu orang jika ia sedang dalam keadan tegang atau memalukan.
e. Mendapat tekanan kelompok untuk merokok.
f. Tidak percaya bahwa rokok dapat membahayakan mereka.

D. Dinamika Panyesuaian Diri Anak Yang Mempunyai Ibu Perokok
Dikota-kota besar seperti salah satunya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, sudah banyak kita lihat dan sangat tidak asing bagi kita melihat ibu-ibu yang merokok di tempat-tempat umum dan di depan anaknya sekalipun, tanpa mereka merasa malu dengan anaknya. Sebagian orang memandang perempuan merokok itu adalah perempuan yang tidak baik, tetapi zaman sekarang tidak semua perempuan yang merokok itu tidak baik, sebab perilaku ibu perokok adalah perilaku ibu yang sangat kompleks, karena merupakan hasil interaksi kognitif, lingkungan sosial conditioning, dan fisiologis dan merupakan kegiatan menghisap tembakau yang di gulung dengan kertas khusus atau daun jagung dan menghirupnya melalui mulut (Sweeting, 1990).
Pada zaman sekarang ini ibu yang merokok sudah banyak dilihat sehingga dianggap sudah hal yang wajar, tetapi sebagian besar ibu yang merokok mengetahui bahwa merokok itu tidak baik bagi kesehatan dan tidak baik buat lingkungan yang ada disekitarnya karena dapat mengakibatkan penyakit hanya dengan menghirup asap rokok tersebut. Sebagian besar ibu yang merokok sudah mempunyai anak dan anak merekapun mengetahuinya akan perilaku ibunya tersebut. Terkadang ibu merokok didepan anaknya dan sebenarnya sangat berpengaruh dalam perkembangan anak serta akan ada dampak psikologis terhadap anak tersebut. Salah satunya, anak tersebut harus bisa melakukan penyesuaian diri agar model dapat menerima bahwa mereka mempunyai ibu seorang perokok, apalagi ketika si anak melihat untuk pertama kali ketika ibunya merokok.
Proses penyesuaian diri anak berlangsung secara bertahap dan tidak secara langsung dapat diterapkan dalam lingkungan yang baru, karena diutuhkan pembiasaan diri atau biasa disebut penyesuaian diri terhadap perubahan yang terjadi, hal ini menurut Sweeting (1990), anak akan lebih mudah menyesuaikan dirinya dalam berbagai hal terhadap ibunya termasuk mempunyai ibu perokok sekalipun, karena secara tidak langsung, ibu lebih berperan penting dalam mengurus anak dari pada orang lain, sehingga dengan sendirinya anak akan lebih mudah menyesuaiakan dirinya terhadap ibunya dibandingkan dengan orang lain.
Ada beberapa karakteristik penyesuaian diri yang baik yang harus dimiliki oleh seseorang, yaitu memiliki persepsi yang akurat terhadap realitas atau kenyataan seperti anak mengetahui ibunya merokok lalu melihat ibunya merokok di tempat umum, mampu mengatasi atau menangani stres dan kecemasan seperti anak dapat menerima dan mengatasi perasaan tidak enak ketika melihat ibunya merokok, memiliki citra diri yang positif seperti tidak tidak pernah berfikiran buruk terhatap suatu hal dan selalu berfikiran positif, mampu mengekspresikan perasaan seperti dapat menunjukan perasaan tidak suka terhadap sesuatu seperti dengan memukul meja disaat mempunyai perasaan kesal, dan memiliki hubungan interpersonal yang baik seperti dapat berkomunikasi dengan baik terhadap seseorang. Persepsi yang dimiliki individu biasanya diwarnai dengan keinginan dan motivasinya. Hanya pada saat-saat tertentu individu dapat melihat dan mendengar apa yang benar-benar dilihat dan didengar. Kadang-kadang karena lingkungan dan kesempatan yang ada di lingkungan, individu harus mengubah dan memodifikasikan cara mencapai tujuannya atau bahkan mengubah tujuannya itu sendiri (Haber & Runyon dalam Prianto, 2007).
Penyesuaian diri adalah suatu faktor yang mencakup respon mental dan tingkah laku yaitu individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustasi karena terhambatnya kebutuhan didalam dirinya sehingga tercapai keselarasan dan keharmonisan antara dorongan dari diri dan tuntutan dari luar dirinya, penyesuaian diri adalah suatu perubahan yang dialami seseorang dalam hidupnya sebagai suatu proses yang sedang berlangsung, atau sebagai suatu keadaan yang tengah atau terus berlangsung untuk mencapai suatu hubungan yang memuaskan dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk dapat bertahan secara psikologis dalam menghadapi sesuatu yang tidak diharapkannya dengan cara mengorganisasi respon sedemikian rupa sehingga bisa mengatasi konflik (Irawan, 2000).
Penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok bisa dikatakan hubungan yang terjalin antara anak dengan orang tuanya jika hubungannya cukup bersahabat, saling memberi dan menerima, akan lebih mudah bagi anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau kelompok barunya. Anak membutuhkan waktu lebih panjang untuk dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan pihak lain (Gracinia, 2004).
Penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu perokok adalah reaksi seseorang anak terhadap rangsangan-rangsangan dari diri sendiri untuk memahami dan untuk dapat menerima sesuatu yang baru anak lihat ataupun reaksi seseorang berhasil dalam menyesuaikan diri adalah dilihat dari cara dia menyesuaikan diri terhadap orang lain atau kelompoknya dan ia memperlihatkan sikap serta tingkahlaku yang menyenangkan. Penyesuaian diri bisa dikatakan sebagai usaha individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Mengatasi hambatan-hambatan dalam mematuhi-mematuhi atau memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Penyesuaian diri anak meliputi sejumlah respon yang kita lakukan agar adaptasi anak yang berlangsung terus-menerus akan menjadi suatu adaptasi dan penyesuaian diri anak merupakan salah satu cara anak berespon dalam adaptasi anak ketika di lingkungan manapun termasuk ketika melihat ibunya merokok, jadi penyesuaian diri anak yang mempunyai ibu merokok adalah proses anak untuk beradaptasi dan dapat menerima dan mengertikan dimana anak tersebut berada.
Pada dasarnya anak perlu menyesuaikan diri pada ibunya yang perokok, karena sebagian banyak anak lebih cenderung dengan ibunya dan secara tidak langsung juga anak melakukan penyesuaian diri terhadap ibunya yang merokok, agar hubungan anak yang terjalin dengan ibunya jika hubungannya cukup bersahabat, saling memberi dan menerima, akan lebih mudah bagi anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau kelompok barunya. Anak membutuhkan waktu lebih panjang untuk dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dengan pihak lain (Gracinia, 2004).


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Dengan latar belakang masalah pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan pemahaman dalam mengertikan dan menginterpretasikan apa yang ada dibalik peristiwa, latar belakang pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya, serta bagaimana manusia meletakan makna pada peristiwa yang terjadi (Sarantoks dalam Poerwandari, 1995).
Menurut Margono (2003), penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati dengan diperoleh data, sering digunakan untuk menghasilkan teori yang timbul dari hipotesis-hipotesis seperti dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukan ketajaman analisis objektivitas, dan sistematis sehingga memperleh ketepatan dalam interpretasi, sebab akibat dari sustu fenomena atau gejala bagi penganut penelitian kualitatif adalah totalitas.
Pengertian penelitian kualitatif menurut Heru Basuki (2006), adalah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah manusia dan sosial, bukan mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu realitas sebagaimana dilakukan penelitian kuantitatif dengan positivismenya. Peneliti menginterpretasikan bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan sekeliling, dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi perilaku mereka. Penelitian dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah (naturalistic) bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi variabel yang dibatalkan.
Ciri-ciri penelitian kualitatif : (Heru Basuki, 2006)
1. Constuct sosial realitas, cultural meaning (mengonstruksi realitas sosial, makna budaya).
a. Focos on tnteraktive processes, events (berfokus pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa).
b. Authenticity is key (keaslian merupakan kunci).
c. Values are present and explicit (nilai hadir dan nyata atau tidak bebas nilai).
d. Situasionally constrained (terikat pada situasi atau terikat pada konteks).
e. Few cases subjects (terdiri atas beberapa kasus atau subjek).
f. Thematic analysis (bersifat analisis tematik)
g. Resecrcher is involred (peneliti terlibat).

B. Subjek Penelitian

1. Karakteristik Subjek
Subjek penelitian yaitu anak berusia 12-15 tahun yang mempunyai ibu perokok yang tinggal didaerah Bogor Barat. Menurut Hurlock (1993) pada usia 12-15 tahun, anak mulai mantap atau matang didalam menentukan perilakunya.
2. Jumlah Subjek
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 1998) tidak ada pedoman yang baku mengenai jumlah sampel yang harus diambil dalam penelitian kualitatif. Jumlah sampel sangat tergantung pada apa yang ingin diketahui peneliti, tujuan penelitian, konteks saat itu, apa yang dianggap berharga dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia.
Penelitian kualitatif, yang fokus penelitianya terletak pada kedalaman dan proses cenderung dilakukan dengan jumlah khusus yang sedikit (Poerwandari, 1998).
Dalam penelitian ini peneliti berencana untuk menggunakan tiga orang anak sebagai subjek dan satu orang sebagai Significant Other untuk lebih mendapatkan kedalaman fenomena yang diteliti.


C. Tahap-tahap Penelitian
Adapun tahap persiapan dan pelaksanaan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, yaitu :
1. Tahap Persiapan Penelitian
Peneliti melakukan persiapan penelitian dengan membaca literatur-literatur yang berhubungan dengan topik penelitian, kemudian peneliti menyusun pedoman wawancara, panduan observasi, dan lembar data diri, serta menyiapkan tape rekorder untuk merekam wawancara agar tidak ada yang terlupakan.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Sebelum proses pengumpulan data dilakukan, peneliti menghubungi seseorang yang mempunyai kontak akrab dengan subjek atau langsung menghubungi subjek itu sendiri dan melakukan wawancara pada waktu dan tempat yang telah disepakati, peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud serta tujuan penelitian dan membuat janji pertemuan berikutnya untuk melakukan wawancara.
3. Tahap Analisis
Setelah melakukan wawancara peneliti memindahkan hasil rekaman wawancara kedalam bentuk tulisan. Peneliti membuat gambar dan analisis tiap-tiap kasus berdasarkan teori-teori yang dijelaskan pada bab II, kemudian peneliti menganalisis antara kasus dengan membuat perbandingan hasil analisis dari semua subjek penelitian berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti membuat kesimpulan untuk mengetahui hasil akhir dan mengajukan saran untuk peneitian selanjutnya.

D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif bertipe studi kasus, metode pengumpulan data dapat dilakukan dari berbagai sumber dengan beragam cara, antaranya berupa observasi dan wawancara.
1. Wawancara
a. Definisi
Banister, dkk. (dalam Poerwandari, 2007) menyebutkan wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang di arahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong, 2000).
b. Jenis-jenis wawancara
Moleong (2000), mengatakan dua jenis wawancara secara garis besar, yaitu :
1) Wawancara berstruktur
Wawancara berstruktur (structure interview) adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada subjek telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pewawancara.
2) Wawancara tidak berstruktur
Wawancara tidak berstruktur lebih bersifat, informal. Pertanyaan-pertanyaan tentang pandangan, sikap, keyakinan subjek dapat diajukan secara bebas oleh subjek. Wawancara seperti ini tampak luas dan biasanya direncanakan agar sesuai dengan subjek dan suasana pada waktu wawancara dilakukan subjek diberi kebebasan dalam mengurai jawabannya.
Patton (dalam Moleong, 2000) yang mengatakan tiga jenis wawancara , yaitu :
1) Wawancara pembicaraan informal, dalam wawancara ini tergantung pada spontanitas dalam mengajukan pertanyaan kepada yang di wawancarai. Wawancara ini dilakukan pada latar alamiah dalam suasana yang wajar dan biasa.
2) Pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara, dalam wawancara ini pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang akan ditanyakan dalam proses wawancara.
3) Wawancara baku terbuka, dalam wawancara ini pewawancara menggunakan seperangkat pertanyaan yang baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannyapun harus sama pada setiap responden.
Dalam proses pengambilan data, peneliti menggunakan wawancara berstruktur. Wawancara berstruktur (structure interview) adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada subjek telah ditetapkan terlebih dahulu oleh pewawancara.

2. Observasi
a. Definisi
Poerwandari (2001), menyatakan observasi adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Observasi yang dilakukan adalah observasi terhadap subjek, dimana peneliti memperhatikan dan mencatat tingkah laku subjek selama wawancara, interaksi dengan peneliti dan hal lain yang dianggap releven sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
b. Jenis-jenis observasi
Poerwandari (2001), mengemukakan beberapa jenis observasi sebagai berikut :
1. Pengamatan melalui cara berperan serta (partisipan), dimana dalam penelitian ini peneliti mempunyai dua fungsi sekaligus artinya dapat mudah langsung mengamati fenomena yang ada dan masuk kedalam kelompok subjek yang diteliti.
2. Pengamatan tanpa berperan serta (non partisipan), dimana penelitian ini peneliti hanya mempunyai satu fungsi yaitu peneliti dapat mengamati dan data secara langsung tentang subjek.
Pada penelitian ini, peneliti bermaksud menggunakan jenis observasi non partisipan, karena dalam penelitian ini peneliti hanya bertugas sebagai peneliti dan dapat mengamati data secara langsung tentang subjek.

E. Instrumen Penelitian
Menurut Poerwandari (1998), peneliti sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendekati topik tersebut, mengumpulkan data, hingga menganalisis, mengintrespretasikan dan menyimpulkan hasil penelitian. Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat bantu (instrumen penelitian), dalam penelitian ini penulis menggunakan empat instrumen, yaitu :
1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara dincara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penlitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
2. Panduan Observasi
Panduan observasi berupa tabel yang disusun berdasarkan aspek-aspek pada penelitian.
3. Alat Perekam
Alat perekam berguna sebagai alat bantu pada saat wawancara, agar penulis dapat benar-benar berkonsentrasi pada proses pengambilan data tanpa harus berhenti mancatat jawaban-jawaban dari responden. Dalam pengumpulkan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah penulis memperoleh ijin dari subjek untuk menggunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.

4. Alat Tulis
Alat tulis berguna sebagai alat bantu untuk melihat dan mencatat perilaku subjek pada saat wawancara berlangsung.

F. KEAKURATAN PENELITIAN
Patton (dalam Desianty, 2003) mengemukakan empat mengtriangulasi sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahaan, yaitu :
1. Triangulasi Data
Seperti hasil wawancara, hasil observasi, significant other, data sekunder atau juga dengan wawancara lebih satu objek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda.
2. Triangulasi Pengamat
Adanya pengamat diluar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dasar pembimbing skripsi bertindak sebagai pengamat yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.
3. Triangulasi Teori
Triangulasi teori yaitu penggunaan berbagai teori yang berlebihan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori-teori telah dijelaskan pada bab II untuk digunakan dan mengkaji terkumpulnya data tersebut.
4. Triangulasi Metode
Triangulasi metode yaitu penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal seperti metode wawancara, metode observasi, peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode observasi.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan ke empat jenis triangulasi di atas sebagai teknik pemeriksaan untuk mencapai keabsahan.



G. TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data menurut Bogdan dkk (2004), adalah proses mengorganisasi dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Suryabrata (2004) mendefinisikan analisis data sebagai proses untuk mengklasifikasikan analisis data dan menyajikan data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam suatu penelitian. Penelitian harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakannya, tergantung pada jenis data yang dikumpulkan.
Menurut Moleong (1998) dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat beberapa tujuan hal yang perlu dilakukan, antara lain :
1. Mengorganisasikan Data
Setelah peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara yang dimana data direkam dengan tape recorder dibantu alat tulis lainnya, maka kemudian dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk rekaman menjadi bentuk tertulis scara verbatin setelah selesai menemui subjek. Data yang diperlukan dapat dibaca berulang-ulang agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah didapat.
2. Pengelompokan Berdasarkan Kategori, Tema, dan Pola Jawaban
Dalam tahap ini dibutuhkan pengertian yang mendalam terhadap data, perhatian yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul di luar apa yang digali berdasarkan kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan koding. Dengan pedoman ini peneliti kemudian memberi transkip wawancara dan melakukan koding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokkan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat.
3. Menguji Asumsi atau Pengamatan yang Ada Terhadap Data
Setelah kategori data dan pola tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yang dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini kategori telah didapat melalui analisis ditinjau kembali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokkan apakah ada landasan teoritis dengan hasil yang dicapai, walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu namun dari landasan teori dapat dibuat asumsi-asumsi hubungan antara konsep-konsep dan faktor-faktor yang ada.
4. Mencari Alternatif Penjelasan Bagi Data
Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, penulis masuk kedalam terhadap penjelasan berdasarkan pada kesimpulan yang telah didapat. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdapat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terpikirkan sebelumnya. Dalam tahap ini akan di jelaskan dengan alternatif lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna bagian kesimpulan, diskusi dan saran.


PEDOMAN WAWANCARA

I. Identitas Subjek
a. Nama :
b. Jenis Kelamin :
c. Umur :
d. Pendidikan :
e. Agama :
f. Pekerjaan :
g. Alamat :

II. Pedoman Pertanyaan
A. Penyesuaian Diri
Dimensi-dimensi penyesuaian diri
1. Self esteem
a. Bagaimana harga diri anda ketika melihat ibu anda merokok?
b. Mengapa anda merasa percaya diri walaupun mempunyai ibu perokok?
c. Apa alasan anda merasa berharga mempunyai ibu perokok?
2. Kebahagiaan
a. Mengapa anda merasa bahagia walaupun mempunyai ibu perokok?
b. Bagaimana cara anda dapat menerima ibu anda yang perokok?
c. Menurut anda, apakah anda merasa bahagia ketika mengetahui ibu anda merokok?
3. Kecemasan
a. Apa alasan anda merasa cemas ketika melihat ibu anda merokok didekat anda?
b. Bagaimana cara anda untuk terbebas dari rasa cemas ketika melihat ibu anda merokok?
c. Apa yang anda lakukan untuk menyesuaikan diri anda agar merasa tidak mencemaskan secara berlebihan ketika ibu anda merokok?

4. Obsesi
a. Apakah anda dapat menikmati hidup dengan santai mempunyai ibu perokok?
b. Apa yang akan dilakukan ketika anda tidak mampu menyesuaikan diri pada saat melihat ibu merokok?
c. Bagaimana cara anda menyikapi diri anda agar merasa bebas (tidak tertekan) ketika mengetahui ibu anda merokok?
5. Otonomi
a. Apakah anda termasuk orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik ketika anda melihat ibu anda merokok pertama kali?
b. Apa alasan anda merasa kurang mampu menyesuaikan diri anda ketika melihat ibu anda merokok disamping anda?
c. Bagaimana cara anda untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik sehingga membuat anda merasa bebas walaupun mempunyai ibu perokok?
6. Rasa Bersalah
a. Apa alasan anda merasa menyesal mempunyai ibu seorang perokok?
b. Bagaimana anda menyesuaikan diri ketika anda merasa bersalah karena mempunyai ibu perokok?
c. Apa alasan anda merasa bersalah mempunyai ibu perokok?




I. Data Significant Other
a. Nama :
b. Jenis Kelamin :
c. Umur :
d. Pendidikan :
e. Agama :
f. Pekerjaan :
g. Alamat :

II. Pedoman Pertanyaan
1. Apa hubungan anda dengan subjek?
2. Menurut anda bagaimana perilaku subjek ketika merasa malu mempunyai ibu perokok?
3. Apakah subjek termasuk orang yang mudah tersinggung lalu pergi meninggalkan ibunya, ketika melihat ibunya merokok?
4. Apakah subjek termasuk orang yang dapat menyesuaikan diriya dengan baik ketika ibunya merokok didepan subjek?
5. Bagaimana cara subjek mengatasi perasaan tidak sukanya melihat ibunya merokok?
6. Apa yang dilakukan subjek ketika melihat ibunya merokok?
7. Bagaimana perilaku subjek ketika merasa bahagia didepan ibunya yang sedang merokok?
8. Apa yang dilakukan subjek ketika makan ditempat umum lalu ibunya merokok didepan subjek?
9. Menurut anda apa yang subjek lakukan ketika ibunya merokok ditempat umum?
10. Bagaimana perilaku subjek ketika ibunya sedang memarahi subjek sambil memegang rokok?




PEDOMAN OBSERVASI

Aspek Subjek Significant other
Penampilan
(berat badan, tinggi, wajah, dll)
Ekspresi
(muka, mulut, mata, dahi)
Gesture
(tubuh, kaki, tangan)
Suara
(nada, kecepatan, intonasi)
Dan lain-lain


DAFTAR PUSATAKA


Ali, M., & Asrori. (2004). Psikologi remaja perkembangan peserta didik. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Andreas, B. (2002). penyesuaian diri anak adopsi.http: one.indoskripsi/adopsi.htm.diakses tanggal 2007

Anurung, U. (2003). Pendidikan kesehatan melalui seminar dan diskusi sebagai alternatif pengulangan perilaku merokok pada ibu di kodya Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi.

Atwater, S. (1983). Princibles and methods of social psychology (4th ed). England : Oxford University Press

Chairani, R. (2007). Penyesuaian diri ibu terhadap anak adopsi. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok. F. Psikologi Gunadarma.

Creswell, J.W. (1998). Qualitative inquiry and research design choosing among Five Fraditions. California : Sage Publication, ICC.

Eysenck, E., & Willson. (2006). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI

Efendi, S., Yulius, S., Suryadi Admajaja, R.S. (1984). Kamus baru bahasa Indonesia. Surabaya. Usaha Nasional.

Fahmi, A. (1977). Understandaing human adustment : Normal adaptation through the life cycle. Boston : Little, Brown and Company.

Garsha, S., dan Kirschenbaum., A. (1980). Princibles and methods of social psychology (3th ed). England : Oxford University Press

Gunarsa, S.D. (2003). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Gerungan, A.S. (2002). Pendidikan kesehatan melalui seminar dan diskusi sebagai alternatif pengulangan perilaku merokok pada ibu di kodya Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi.

Haber, A., dan Runyon., R.P. (1984). Psychology of adjustment. illinois: The Dorsey Press.

Haditono, R. (1992). Psikologi remaja perkembangan peserta didik. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Hawadi, R.A. (2001). Psikologi perkembangan anak. Jakarta : PT. Grasindo

Hollander, E.P. (1981). Princibles and methods of social psychology (4th ed). England : Oxford University Press

Hollander, E.D. (1981). Principles and methods of social psychology (4th ed). New York. Oxford University Press.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Hurlock, E.B. (1993). Psikologi perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Komalasari, Y.S. (2001). Pendidikan kesehatan melalui seminar dan diskusi sebagai alternatif pengulangan perilaku merokok pada ibu di kodya Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi.

Lazarus, R.S. (1961). Patterns of Adjustment (3rd edition). Tokyo : McGraw. Hill Kogakusha, Ltd.

Leventhal, M.A. (1986). Patterns of Adjustment (2rd edition). Tokyo : McGraw. Hill Kogakusha, Ltd.

Moleong, L. J. (2000). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Poerwandari, E.K. (1995). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta : LPSP3-UI

Poerwandari, E.K. (1998). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta : Aksara

Poerwandari, E.K. (2001). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI.

Powell, D.H. (1983). Understandaing human adjustment : Normal adaptation through the life Cycle. Boston : Little, Brown and Company.

Patton, M.Q. (1990). Qualitative Evaluation and Research Methods (2nd ed). England : Oxford University Press

Alfarisy, S. (1998). Penyesuaian diri anak bungsu.http: one.indoskripsi/anak.htm.diakses tanggal 2007

Safarino, S. (1998). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI

Sobur, A. (2003). Psikologi umum dan lintasan sejara. Bandung : CV. Pustaka Setia.

Somantri, S. (1990). Psikologi anak luar biasa. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Somantri, S. (1996). Psikologi anak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sunarto, S. (2002). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta : Aksara

Sweeting, A. (1990). Pendekatan pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta : Aksara

Yulianti, P. (2002). Penyesuaian diri anak kosan. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok. F. Psikologi Gunadarma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar